Posted in Tugas

Lelaki bernama Sunardi

Namanya Sunardi….orang yang sangat saya sayangi, beliau seperti ayah kedua bagi saya. Sunardi adalah nama kakek saya dari pihak ibu. Beliau adalah orang yang mengajarkan saya cara naik sepeda dan berenang. Saya adalah kutu buku dan itu kegemaran saya membaca buku tidak luput dari peran serta kakek saya tersebut. Walaupun beliau hanya seorang sopir tapi beliau suka membaca. Saya ingat setiap beliau pulang kerja, kakek saya selalu membawa koran. Dan menyuruh saya untuk membacanya, hingga akhirnya tanpa beliau menyuruh saya untuk membaca saya akan membacanya sendiri. Dan jika kakek saya lihat saya sedang membaca koran maka beliau akan menyuruh membawa pulang koran itu meskipun kakek saya belum membaca seluruhnya.
Ketika saya belajar naek sepeda beliau pula yang mengajari saya hingga saya bisa naek sepeda. Bahkan ketika saya belajar naik sepeda motor beliau pula yang mengawasi, karena kakek saya tidak bisa naik sepeda motor. Tidak hanya sekedar itu saja peran kakek saya dalam pertumbuhan saya, kakek saya selalu rutin mengajari saya berenang seminggu sekali bahkan saat hujan sekalipun dan hebatnya tidak seperti pelatih renang pada umumnya yang ikut turun ke kolam renang. Kakek saya hamper tidak pernah turun ke kolam renang ketika mengajari saya berenang, beliau hanya memberikan instruksi dari atas, hingga akhirnya saya bisa berenang gaya bebas, gaya katak dan gaya dada. Saya ingat jika saat latihan berenang saya banyak main-main saja, beliau selalu mengancam akan mengajak saya pulang.
Ketika saya kecil setiap akhir pekan saya akan menginap di rumah kakek saya itu, dan saya selalu meminta dongeng sebelum tidur, dan dongeng yang sering beliau ceritakan adalah kancil mencuri timun. Dan paginya ketika bangun beliau akan menasehati saya tentang hidup, tentang harus berlaku baik kepada semua orang.
Karena waktu itu saya masih terlalu kecil saya pasti bosan mendengar nasihat beliau, saya suka melarikan diri ketika beliau menasehati saya. Dan saya piker beliau akan membiarkan saya pergi, tetapi ternyata tidak. Ketika saya melarikan diri dengan di dapur menunggu nenek saya memasak atau nongkrong di depan TV bersama sepupu saya yang lain. Beliau pasti akan memanggil saya kembali dan menasehati saya lagi. Dan anehnya hal itu hanya beliau lakukan kepada saya, bukan kepada cucu-cucu yang lain, padahal saya bukan termasuk anak yang nakal. Kadang saya berpikir apa karena saya cucu pertama beliau. Tapi hingga sekarang saya tidak tahu apa sebenarnya jawabannya.
Beliau selalu member uang saku seminggu sekali kepada saya dan berpesan untuk menabungkannya untuk biaya sekolah nanti. Ya….walaupun kakek saya tidak lulus SD, tetapi kakek saya selalu memotivasi saya untuk sekolah setinggi-tingginya, kakek saya selalu berharap ketika saya besar nanti saya akan menjadi dokter, dan kenyataanya saya tidak mampu mewujudkan cita-cita beliau.
Ketika saya beranjak remaja kakek saya sudah jarang memberi saya nasehat, saya tidak tahu mengapa. Kadang ketika saya mengunjunginya dan saya coba untuk duduk lama disamping beliau dengan berharap mendengar nasihat beliau, tapi kadang itu tidak terjadi. Hingga kadang saya memancing agar kakek saya mau mengeluarkan petuah-petuahnya, tapi saya merasa kakek saya tidak secerewet dahulu.
Saya bersyukur saya mempunyai kakek seperti beliau yang memberikan saya harta yang sangat berharga yaitu pelajaran tentang kehidupan seperti harus menjadi orang yang selalu rendah hati meskipun kita kaya atau mempunyai jabatan yang tinggi, yang mengajari saya untuk tidak bosan belajar dan bermimpi, mengajari saya untuk selalu berbuat dan berprasangka baik kepada siapa pun termasuk orang yang jahat kepada saya sekalipun, mengajari saya untuk selalu optimis dan positif thingking dan tidak bosan menasehati saya untuk selalu membantu orang lain.
Jika mungkin jaman sekarang segala sesuatu harus di ukur oleh materi, maka saya tidak sepaham. Karena cinta kasih tidak selalu diukur dengan materi. Seperti hubungan saya dengan kakek saya, yang saya menyayangi beliau karena beliau sering memberi uang saku atau mainan tapi karena apa yang telah beliau ajarkan kepada saya selama ini yaitu nasehat-nasehat yang sangat berarti yang akan saya ingat dan saya coba jalankan selalu……untuk kakeku Sunardi…I Love You Grandpa……

Advertisements

2 thoughts on “Lelaki bernama Sunardi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s