Posted in story

Awalnya Firasat …

“Mengapa kita diberi firasat? Apakah firasat dapat mengubah takdir? Kalau tidak bisa mengubah takdir, untuk apa ada firasat? Firasat itu tidak bisa mengubah apapun. Firasat itu ada untuk membuat kita bisa menerima. Saat kita menerima, kita juga belajar berdamai dengan hidup. “

Suka dengan paragraf di atas yang saya dapat dari sebuah blog (maaf lupa link-nya) yang sedang me-review film Rectoverso. Saya suka bukan karena saya sensitif dengan Firasat atau apa, tapi karena suka dengan kalimat terakhirnya “Saat kita menerima, kita juga belajar berdamai dengan hidup” .

Menurut saya ketika kita tidak dapat berdamai dengan hidup, hidup kita tidak akan tenang. Sehingga ketika ada hal buruk/tidak menyenangkan yang terjadi dalam hidup kita, kita akan sibuk menyalahkan orang lain, menyalahkan sesuatu bahkan tidak mungkin kita menyalahkan Tuhan kenapa hal buruk tersebut terjadi dalam hidup kita.

Tetapi ketika kita bisa berdamai dengan hidup kita sendiri, kita akan menemukan kedamaian dalam hidup kita. Untuk berdamai dengan hidup, dengan diri kita sendiri bukan hal yang mudah, mungkin butuh seumur hidup untuk belajar, mungkin harus ada titik balik dalam hidup kita hingga kita akhirnya bisa belajar untuk berdamai dengan hidup kita, belajar menerima.

Karena hidup pada dasarnya adalah menerima, menerima apa yang Tuhan gariskan dalam hidup kita, menerima takdir kita sebagai manusia. Dan firasat mungkin adalah salah satu perantara dalam hidup kita, untuk belajar menerima…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s